Tidak ada yang salah dengan RUTINITAS

by - April 07, 2006

Suatu hari aku pulang dari kantor sudah larut malam, sekitar jam 9. Dengan tampang lusuh aku berjalan pulang, pake baju kantor, tas ransel yang isinya laptop, pokoknya gaya banget deh (menurutku) kaya eksekutif muda. Dari arah yang berlawanan aku melihat ada yang persis gayanya sama dengan aku, dengan baju kerja, memakai tas ransel (mungkin isinya laptop juga), dan tampangnya juga lusuh (tapi masih lusuhan gw weee). Terus sekilas aku melihat wajahnya, hm...mungkin dia abis pulang kerja juga.
Tiba-tiba hatiku protes, tadi udah bangga-bangga 'bergaya' karena pulang dari kerja malem, eh ga taunya ga cuma aku yang seperti itu. Mungkin most of workers juga seperti aku. Pikiranku mulai menclok sana sini sambil berjalan pulang, berkata pada diri sendiri "enak aja aku jadi sama dengan orang pada umumnya...ga bisa! harus berbeda dong!".
Banyak sekali hal terlintas dengan alasan supaya tidak menjadi sama dengan kebanyakan orang itu. Sampai aku sempet tanya juga ke beberapa teman. Ada temanku bilang kalo kita memang dari sononya adalah peniru, peniru dari orang sebelum kita. Dia kutip kata-kata dari buku yang cukup terkenal "Copy cat". Tapi aku langsung tidak setuju, karena hal tersebut sungguh-sungguh bertentangan dengan paham creativity intelligent yang aku anut.

Sampai pada hari ini, di kantor ada PD Jumat. Hari ini aku share leadernya, dan kita sedang membahas buku Purpose Driven Life-chapter 8 "Direncanakan bagi kesenangan Allah". Aku hampir tidak persiapan untuk menjadi share leader kali ini. Biasanya aku mencari-cari atau membuat suatu perumpamaan yang identik dengan cerita hari ini, tapi aku nge-blank. Sampai akhirnya aku sharing tentang chapter itu. Dan akhirnya aku mengerti (hehe, lucu juga...aku yang khotbah, eh aku juga yang kena isi khotbah itu).

Jadi gini, di buku itu yang aku simpulkan adalah ada 2 kegiatan sebenarnya yang kita bisa lakukan dalam kehidupan ini, yaitu menyenangkan hati Tuhan atau tidak menyenangkan. Tentunya kita pilih yang pertama.
Untuk menyenangkan hati Tuhan dibagi lagi menjadi 2 pilihan besar, yaitu menjadi pendeta (istilahku yang artinya semua kegiatan yang dilakukan sifatnya rohani), atau menjadi pekerja sekuler. Tapi bagaimana caranya kita menjadi pekerja sekuler dengan tetap menyenangkan Tuhan? Bukankah kedua hal tersebut bertentangan?

Hehehe, awalnya aku tidak mengerti juga, sampai akhirnya buku ini menyampaikan arti dari sebuah penyembahan. Penyembahan bukan hanya musik, bukan hanya kegiatan gerejawi, bukan hanya berdoa dan bersaat teduh, tapi penyembahan adalah hidup kita. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap tafsiranku selama ini tentang "Allah merindukan adanya penyembah-penyembah sejati yang menyembah dalam roh dan kebenaran". Di ayat ini, sebenarnya Allah ingin berkata bukan hanya lagu, pujian, atau kegiatan rohani yang kita lakukan, tapi Allah ingin hidup kita dalam roh dan kebenaran. Owwww !!!

Aku dulu membenci kata rutinitas. Seperti di awal cerita ini, aku menganut paham creativity intelligence, yang berarti kita harus inovatif, kreatif, berbeda dengan orang lain, tidak meniru, dan menjadi lebih baik. Tapi sekarang setelah mengerti tentang penyembahan, aku mempertanyakan kembali...sebenarnya yang salah itu siapa? Rutinitas itu sendiri atau kegiatan yang kita lakukan dalam rutinitas itu?

Tidak ada yang salah dengan rutinitas. Tidak ada yang salah kita setiap harinya bangun jam 5, bergegas mandi, baca alkitab dan berdoa 3 menit, berangkat tanpa sarapan dulu, sampai di kantor, bekerja, pulang jam 5, pulang ke rumah, mandi (kadang langsung tidur), nonton tv. Tidak ada yang salah juga menjadi manusia pada umumnya (yang terlihat secara fisik), memakai tas ransel isi laptop, pulang malam, dan sampai rumah mengerjakan pekerjaan kantor lagi. Sama sekali tidak ada yang salah dengan semua itu. Yang harus diperhatikan sebenarnya adalah apa yang kita lakukan dalam rutinitas kita sehari-hari? Penyembahankah? Atau hanya menjalani kehidupan apa adanya?

You May Also Like

0 comment