Apa yang tidak pernah dilihat...itu yang diberikanNya pada kita

by - January 27, 2006

Hari ini aku teringat akan JC (baca:jessie), keponakanku yang umurnya masih 2.5 tahun. Waktu kemarin mamanya sempet telpon ke handphoneku (dari medan) dan bilang kalo JC mau ngomong ama ku. Ternyata dia lagi ngambek dan nangis, dan bilang ke mamanya pengen ngomong ama aku. Akhirnya aku bicaralah dengan dia. "Ayok kita pasyang musyik musyik yok Pak Engah...", kata dia dengan polosnya. "Jessie mo nali-nali...". Hehehe, jadi kangen deh aku!!!

Menjadi anak kecil mungkin akan menjadi hal yang paling menyenangkan, karena kita bebas mengungkapkan apa saja, tanpa rasa bersalah dan juga lepas dari perkiraan logika. Pernah suatu hari ketika aku baru pulang kantor, kebetulan JC belum tidur. Begitu pintu dibuka, dia sudah menyambut dengan tertawa. Sambil langsung berlari ke arah yang berlawanan. Aku agak heran tiba-tiba dia sambil tertawa berlari kesana kemari. Tampaknya gembira sekali. Sambil aku melepas sepatu, aku memperhatikan kalo JC tampak dengan semangat mengambil sesuatu dari dus mainannya. Aku hanya menunggu sambil terus tersenyum melihat tingkahnya yang 'overaction' itu...hihi.

Seperti yang aku duga, dia mengeluarkan mainannya. Langsung bergegas dibawanya ke depan aku dan memperlihatkannya kepadaku sambil bilang "Pak Engah...ini maenan jc yang baru...tuh bisa di pencet-pencet..." kata dia sambil menggelengkan kepalanya setengah tanda dia begitu exited dan bangga. Ternyata mainan barunya itu adalah keyboard mini yang kalau 1 tuts dipencet langsung berbunyi suatu lagu anak-anak. JC tetap asik memperlihatkan bahwa keyboard itu bisa ganti-ganti suara/ lagu, dan aku mencoba untuk terlihat tertarik akan apa yang sedang dia perlihatkan.

Aku menuju tempat makan, perut sudah agak lapar-kerja seharian ternyata memerlukan energi juga. JC tidak mau melepas mainan barunya itu. Ia tetap memegang erat-erat mainan tersebut sambil tetap berlalu lalang di depanku yang sedang menyantap makan malam sambil menonton tv. Kondisi rumah seketika itu jadi ramai sekali karena JC memainkan keyboard barunya itu, bahkan suara tv sudah terkalahkan. Aku sempat takjub juga melihat begitu asiknya dia dengan keyboard mainan barunya itu. Aku tetap melanjutkan makan malamku sambil tersenyum-senyum. Aku punya suatu rencana di benakku.

Selesai makan, aku langsung ajak JC bermain-main, tentunya dengan mainan barunya itu. Aku mengikuti lagu yang dimainkan oleh keyboard barunya itu, bernyanyi bersama, dan bahkan menari sambil tertawa-tawa. JC terlihat begitu puas sekali ketika sadar kalau aku juga menikmati mainan barunya itu.

Setelah itu, aku pikir ini saatnya menjalankan rencanaku. Aku ajak JC ke atas, sambil membawa keyboard barunya itu. "Kita maen-maen di atas yok jes...", kataku sambil tersenyum. JC langsung mengiyakan. Aku tuntun JC naik tangga menuju kamarku.
Sesampainya di kamarku dia langsung mencoba menguasai situasi. Dia melihat ke sekeliling, apa saja yang ada di dalam kamarku itu dia coba lihat dan menghapalnya. Hehehe, memang anak pintar...dia tidak pernah bersikap sembrono, tapi hati-hati sekali.

Akhirnya aku mengambil tempat duduk di bangku kamarku. Tepat di depanku ada keyboard Roland milikku, sebuah keyboard impianku juga. Aku angkat JC supaya bisa duduk di pangkuanku. Dia agak kaget dan mungkin bertanya-tanya apa yang sedang akan aku lakukan. Tangannya masih memegang erat keyboard mainan dia tadi. Kemudian aku lepas cover keyboardnya dan mulai terlihatlah tuts hitam putih keyboardku itu.
Pastinya dia takjub, dan mulai penasaran terhadap benda yang sedang ada di depannya itu. Aku nyalakan powernya dan mulai memainkan sebuah rhytme yang agak groovy. Dia mulai beranikan dirinya memencet tuts-tuts yang ada, walau masih dengan satu tangan. Kemudian menyadari kalau yang dipencetnya itu berbunyi, dia senang. Dan kemudian dia mulai memencet lebih banyak lagi tombol bahkan tombol selain tuts dia ikut pencet juga. Sampai akhirnya dia lupa akan keyboard mainan yang sedang dia pegang erat di tangan kanannya itu, dan keyboard itupun terlepas dan jatuh dengan pelan. Tiba-tiba dia ada di sebuah dunia lain, berbeda dengan yang baru saja dia alami. Sebuah dunia keyboard sungguhan.

Hehehe. Cerita yang lucu dan memiliki makna dalam bagiku.
Beberapa hari ini aku mulai membaca buku "Heaven is so real!". Sebuah buku kesaksian seorang wanita yang mengaku telah diberi penglihatan tentang surga. Pertama mendengar tentang buku ini aku sudah tertarik. Namun bukan berarti langsung percaya terhadap apa yang ditulisnya.
Aku teringat perkataan kakekku yang berbicara seperti ini "Ya, jadi...kita sebagai manusia harus sadar bahwa Allah itu sebenarnya berada di luar logika manusia dan sama sekali tidak bisa dipelajari sempurna oleh akal manusia. Sehingga benar bahwa Allah itu Roh adanya, dan itu berarti apabila kita ingin mengenal Allah, kita pun harus percaya pada hal-hal yang sifatnya Roh dan tidak masuk akal. "

Heaven is so real.
Aku percaya surga itu ada...

You May Also Like

0 comment