CHOIR (Micnya terlalu dekat!!!)

by - December 16, 2005

Hari rabu kemarin ada kejadian lucu. Jadi gw nebeng dengan deddy temen kantor sampai ke plaza semanggi, rencana mau ngejar jemputan hiba yang jam 5.30. Jadi dengan santai gw duduk-duduk santai di balok trotoar sebelum mcD. Secara ga sengaja, di jendela satu bus yang lewat, gw ngeliat temen gereja, anak permata juga. Weleh, ngapain mereka ke jakarta ya? Akhirnya dadah-dadahan. Kebetulan juga ketemu dengan abang yang satu gereja, jadi lebih seru ngobrolnya di balok trotoar itu. Busnya datang, jadi aku bersiap-siap. Sialnya dia ambil jalur kanan! WEKS! Gw udah ga semangat ngejarnya, walau sebenarnya kondisi macet masih memungkinkan untuk ngejar.
Akhirnya aku dengan penuh kegeraman (ga segitu kaleee) jalan santai menuju plangi. Lucunya lagi, pas lagi jalan...eh ketemu ama anak permata yang tadi dadah-dadahan di bus (Vina+Nia). Mereka bilang mau natalan di balai sarbini. Gw diajakin, tapi gw pikir males banget lah, udah ngantuk dan cape...bawaannya pengen cepet pulang aja. Akhirnya gw meneruskan perjalanan ke arah depan plangi. Sampai disitu, dapet telp dari Ika "Bang, ikutan natalan yuk!". Wakz, diajakin lagi. Tapi lagi-lagi dengan kebulatan hati gw menolak.
Satu detik setelah menutup telepon, aku langsung berubah pikiran. "Ngapain juga pulang cepet-cepet...". Aku langsung callback, tapi sibuk mulu. Akhirnya gw coba hubungi anak permata lainnya, berhasil. Aku minta mereka tunggu di depan sarbini.

Believe it or not, itu pertama kalinya gw masuk balai sarbini (tenang tor, masih banyak kok orang-orang yang belum mampu masuk juga...hehehe). Waktu acara dimulai orang-orang udah ada yang nyalain fosfor yang harusnya dinyalain pas candle light. Tapi gw jaga supaya ga nyala dulu, sayang aja gitu.
Ello nyanyi 2 buah lagu, dengan hanya bermodalkan gitar accoustic hitam miliknya. Ck ck ck, suaranya memang ok, walau malam itu keliatan dia agak nervous (chord gitarnya beberapa kali salah mulu) dan kurangnya improvisasi. Apalagi pas temen rap-nya datang nemenin dia di lagu "O Happy Day", kurang greget aja.

Nah, yang aku pengen ceritain sebenarnya...
Disitu ada penampilan sebuah choir. Gw lupa choir dari mana, tapi dilihat dari persiapan panggung sebelum mereka mulai bernyanyi, pasti ok ni pikirku. Micnya sudah ada yang khusus untuk mic choir gitu, yang bentuknya tinggi, dan kemudian melengkung ke bawah. Setahuku itu mic sensitif sekali dan dapat meredam 'hiss'. Satu kejanggalan, ada seorang pemuda dengan santainya menambah mic, dia memegangnya pula dekat sekali dengan mulutnya (yah, ga terlalu dekat lah tapi lebih dekat dari yang lain). Aku udah langsung berpikir, waduuuhh, pasti suaranya ga balance ni.
Dan bener aja, pemuda itu memainkan suara bas dalam choir itu. Mic yang terlalu dekat mengakibatkan suara dia jadi agak dominan gitu. Sepanjang mereka bernyanyi, gw pengen tetap menikmati perpaduan suara mereka, tapi terus terganggu dengan dominannya suara bass gara-gara mic yang terlalu dekat.
Ingin rasanya aku bilang kalo mendingan mic-nya ga usah dipegang, atau matikan saja. Tapi sayangnya tidak bisa.
Paduan suaranya tetap bagus, tapi jadi kurang harmonis.


Hm,
Sering kali dalam hidup seperti itu ya?
Sengaja atau tidak sengaja, kita ingin menonjolkan diri kita lebih dari yang lain. Beberapa waktu yang lalu aku pernah bahas dengan seorang teman, mengenai seseorang di milis yang kayaknya berusaha tenar banget. Dia bilang begini "yah, mungkin dia butuh pengakuan, Tor...".
Tapi aku ga suka seperti itu, i would prefer doing all things behind the scenes. Walau gw akui juga, rasa ingin menonjolkan diri itu hampir selalu ada dalam setiap event, dan untuk meredam itu susah dan tidak mengenakkan hati. Tapi aku pikir...itu harus dilakukan setiap kali rasa itu muncul. Gw ga tau apakah gw berhasil atau tidak, mungkin juga dalam banyak event gw gagal dan menjadi sok tenar (ampuni aku kalau seperti itu, Tuhan).

Untuk menjadi renungan...
Seandainya kita ada disebuah choir, liat dong mic yang ada di depan kita...
Apakah sudah terlalu dekat? Bersediakah kita untuk menjauhkannya sedikit suara yang lain bisa lebih terdengar dan menjadi harmonis?
Ataukan mungkin juga sudah terlalu jauh? Kita tidak pernah percaya lagi dengan kemampuan kita untuk membuat sesuatu menjadi lebih indah?

Seperti lirik sebuah lagu:
"Jadikan aku alat musik-Mu yang indah diantara kumpulan alat musik-Mu yang lain..."

You May Also Like

2 comment

  1. Wow!!
    what a perfect analogy ;)

    but belum tentu dia spt yg kamu pikirkan lho... caranya saja yg mungkin terlalu 'nampak' buat orang kebanyakan termasuk kita... :)

    so, what about yourself??

    ReplyDelete