Rapat Besar Para Pemulung Barang Bekas (sebuah harapan)

by - October 20, 2005

Pagi ini setelah aku turun dari bus kopaja 66 di blok M, seperti biasa (seperti biasa muluu) aku berjalan ke arah kantor di daerah panglima polim. Aku lewat jalan belakang, menyebrang jalan, ketemu bank danamon, terus jalan dan sewaktu persimpangan aku akan belok ke kanan.
Disitu rame sekali pagi ini, persis pas persimpangan itu. Aku heran! Terjajar dengan rapih gerobak-gerobak lusuh yang isinya macam-macam, mulai dari kardus, paralon, besi. Semuanya bercampur menjadi satu di dalam gerobak itu. Kuhitung kurang lebih ada 10 gerobak 'parkir' disitu.

Aku pelankan langkah kakiku, sambil kuperhatikan apa yang sedang terjadi. Terlihat seorang bapak tua, kurus dan tirus tengah duduk bersila dengan wajah yang penuh wibawa. Dia berbicara keras dan percaya diri. Sementara yang lain memperhatikan dengan seksama apa yang dibicarakan oleh bapak ini tadi. Mungkin bapak ini tadi sedang memimpin sebuah rapat besar para pemulung barang bekas. Namun demikian, tidak ada perbedaan yang mencolok antara pemimpin dan anak buahnya, keduanya memakai pakaian lusuh, kotor, dan postur tubuh yang tidak jauh berbeda.
Jadi kenapa bapak ini bisa memimpin rapat 'besar' itu?
Kuperhatikan sekali lagi sambil terus berjalan. Waktu masuk kantor masih lama aku pikir, jadi kuperlambat lagi langkah kakiku. Wajah bapak ini ketika berbicara seperti memiliki sesuatu yang lain. Dari matanya terpancar sebuah harapan. Ya! Harapan!
Abangku selalu berkata kepadaku, "Tor, berharap itu indah...".
Pemimpin para pemulung bekas ini memiliki harapan, dan mungkin itulah yang membuat dia bisa berkata-kata dengan lantang di hadapan semua anak buahnya (atau mungkin teman-temannya?). Ya, dia sedang berbuat sesuatu untuk mencapai harapan tersebut. Aku tidak sempat mendengarkan 'isi rapat' yang sedang mereka bicarakan. Namun, setelah melewati gerobak-gerobak itu, aku sempat sekali lagi menoleh ke belakang. Kulihat ada sebuah tulisan di salah satu gerobak dengan menggunakan bekas cat minyak berwarna putih. Tulisannya kurang jelas, namun isinya kurang lebih "Datanglah wahai manusia setengah dewa...".
Wahahaha, walau aku sempat tertawa sendiri sambil berjalan namun aku jadi berpikir. Seberapa besarkah harapanku menantikan kedatangan-Nya?

You May Also Like

3 comment

  1. wah tor dah lama gak berhubungan lg kita...dan sepertinya dirimu tambah wise aja skrg....baca tulisan lu ini,gw jg jd mikir gw hrs bs punya harapan,gw ngerasa hidup gw hampa bgt skrg broer...
    blom dpt kerja itu bikin gw stress bgt...setelah selesai kursus,gw ga tau lg nich mau ngapain....tp tulisan lu lumayan bikin gw semangat lg...thanx broer...keep in touch okey........

    ReplyDelete
  2. Tingkatkan RANKING WEBSITE secara otomasits dengan SOFTWARE baru ini.
    Dapatkan di LINK GENERATOR SOFTWARE

    Saya telah ping blog ini ke search engine sebagai ucapan terima kasih kepada pemilik blog.

    ReplyDelete
  3. Gue dapet ide bikin drama natal dari tulisan lu ini. Judulnya "REPUBLIK PEMULUNG".

    ReplyDelete