Redup, namun menerangi

by - July 27, 2005

Sore ini aku pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya. Aku rencananya memang ingin pulang lebih awal, soalnya udah hampir seminggu ini pulang malem terus :( Begitu naik bus, aku sedikit trauma untuk mengambil posisi enak buat tidur, soalnya kemaren sempet ketiduran di bus, akhirnya kelewatan deh turunnya. Hahaha :)

Ah, entah ada kaitannya tulisanku ini dengan judulnya. Hanya ingin menulis saja. Menulis dalam artian dalam bentuk cerita. Kemaren pas ketemu bareng Raymond dan Joyce (+Lona) di Blok M sambil makan-makan di BMK, Raymond sempet berujar dan protes soalnya blog gw isinya puisi semua! Dan dia bilang ga semua orang suka puisi. Hm, bener juga sih--walau aku juga lupa entah kapan juga aku jadi seneng menulis puisi.

Aku ingat sewaktu ada pelajaran bahasa indonesia di sekolah dasar. Hm, aku sama sekali gagap untuk nulis puisi, apalagi berdeklamasi di depan kelas. Abangku justru yang paling semangat beli buku-buku puisi. Aku masih ingat ada buku kumpulan-kumpulan puisi Chairil Anwar dari judul Aku, dan lain-lain (aku lupa hahaha). Yang pasti, dulu sama sekali tidak ada perasaan menarik sedikitpun untuk membaca, menulis bahkan untuk membacakan sebuah puisi.

Kembali ke cerita disuruh bacain puisi, kucontek saja puisi abangku yang berjudul "Jenderal Sudirman!". Bahkan sampai membacakannya pun aku diajari oleh abangku di depan cermin. Aku benar-benar tidak bisa melakukannya. Namun, waktu itu jadi juga aku membacakannya sambil mengacung-acungkan telunjuk dengan semangat ketika berdeklamasi. Itulah pengalaman pertama dengan puisi.

Bapak yang dari aku lahir sudah membeli gitar (sebuah gitar nyolon merah merk Arista, sayang sekarang sudah tidak ada karena berpindah tangan ketika abangku ditodong di mayasari). Namun, entah kenapa pula aku sama sekali tidak tertarik mempelajari gitar. Padahal aku ingat sekali Bapak ingin sekali mengajarkan ilmu gitarnya kepadaku (bahkan ke-3 orang anaknya). Kelas 4 SD justru aku memilih untuk les piano. Nama tempat lesnya Empire Music. Itupun karena yang punya adalah kenalan Bapak yang punya toko di Internusa (sekarang Pangrango Plaza). Sebulan biaya les 25ribu rupiah, tergolong mahal SEKALI untuk jaman itu. 6 bulan aku berhenti, karena aku merasa tidak berkembang. Mungkin karena di rumah tidak ada tempat latihan kecuali "piano" casio kecil yang memakai baterai AAA.

Kelas 6 SD aku mulai menyentuh gitar. Bapak senang sekali. Bahkan guru SDku yang namanya Pak Zulkifli sangat bangga melihat minatku bermain gitar sangat tinggi, karena beliaupun suka sekali bermain gitar. Aku ingat sekali sarannya kepadaku "Tor, kalo mau mahir bermain gitar, coba bermain di kamar dan matikan lampunya. Bermainlah dengan naluri dan insting". Aku dulu menanggapi serius "ide gila" itu, dan aku praktekan. Haha, yang ada aku bermain jelek sekali!!! Namun, justru karena itu aku semakin hapal dengan letak-letak jari di gitar, di kolom-kolom yang bernama frets.

Beranjak ke SMP, aku punya band pertama bernama Avonturir. Aku semakin gila bermain gitar. Hampir setiap hari aku membawa gitar ke sekolah, sampe tuh gitar kegores-gores. Kebiasaanku membawa gitar tanpa cover, dan duduk di angkot dengan menaruh tegak gitar tersebut diatas sepatuku. Aku lumayan ngetop lah (huehehe). Apalagi Avonturir bawain lagu-lagu Aerosmith yang notabene dianggap susah. Hahaha, itupun sebenarnya karena ambisi pribadi vokalis kita yang bernama Ivan yang suka banget ama Avonturir. Dan akhirnya aku suka sekali dengan musik Rock.

Dalam beberapa kesempatan Pesta Perpisahan, aku tidak bisa ikutan manggung bareng, terpaksa digantikan oleh additional player. Yang pertama aku harus ikut piara, dan yang kedua ada acara keluarga. Namun waktu 17 agustus kita sempet manggung di beberapa kampung, termasuk kampung deket rumahku. Hahaha, karena mulai melihat pasar, kita mulai bermain dengan lagu Extreme seperti R.I.P (lagu kebangsaan banget ni), terus More Than Words. Gigi dengan lagu "O .. o .. o ". Yah, cukup menjual lah. Apalagi beberapa kali sempet ikutan festival juga, dan bermain di pesta nikah. Waaaaaa...
Masuk SMU, aku seriusin band. Kita punya bengkel musik di bogor baru (deket rumah). Dan kita punya band panutan namanya Smokey Signals yang maniak banget bawain lagu-lagu Extreme mulai dari Hip Today, Stop The Worlds, Midnight Express, Unconditional Love, Tragic Comic. Wuuh, vocalisnya namanya Aries, gitarisnya yang jago banget namanya Reynald (alm. karena over dosis). Pernah gw bela-belain mijitin Reynald supaya diajarin gitar. Eh, dia malah bilang "Ya, pijitin lebih kenceng dikit Tor...sekalian belajar Tapping". Hahaha, dasar!!!
Dari semua impian itu...semua tampak berjalan dengan lancar. Sampai di SMU pun aku punya band yang namanya KARDOES. Bawain lagu ABG banget lah mulai dari SLANK, COLLECTIVE SOUL, dan top 40 gitu deh.
Sampe saatnya Tuhan mengambilku..."Sudah saatnya", DIA berkata.
Aku hengkang dari band KARDOES,
Bahkan aku "timpah" semua kaset sekuler (banyak banget tuh). Rencananya sih dibakar, tapi sayang juga. Haha:) Tindakan yang cukup ekstrim...tapi itulah awal pertobatanku...lewat musik!
Aku mulai menjadi seorang yang ANEH! Dengan kemampuan bermain gitarku, seharusnya aku bisa menjadi cukup terkenal. Namun, waktu itu tiap hari rabu malahan aku ikut komsel. Aku bermain gitar untuk Tuhan!
Terus terang, aku ga jago-jago banget maen gitar. Aku hanya bisa bermain dengan 'indah' saja. Semenjak itu duniaku berubah. Sempet ada temen musikku di smu ngomong secara pribadi denganku, karena waktu itu dia ngajak aku jadi additional guitaris untuk bawain lagu Mr. Big pas perpisahan. Gilanya, aku malah berbicara panjang lebar tentang kehidupan di surga nanti yang penuh dengan pujian dan penyembahan. Hahaha, memang aku sudah aneh.
Tapi itulah tangan Tuhan. Seiring waktu aku diberi kebijakan dan hikmat untuk memilah-milah lagi apa yang baik, yang kudus, dan yang berkenan di hadapan Dia. Walau aku bisa cukup ekstrim untuk sesuatu, namun aku mulai 'agak' kompromi dengan musik, mulai tenang dan bisa memainkan jazz, mendengarkan musik "dunia" yang masih batas normal. Dan tetap, ketika aku bermain, aku lebih suka memainkan sesuatu yang memiliki nuansa surgawi (hahaha, silahkan...kamu boleh kok berkata "kamu aneh Tor!").
Xixixi, kemudian muncul ide gila menciptakan lagu. Ide gila??? Ya!!! Karena menulis puisi pun aku gagap dan tidak bisa. Puisi "Jendral Sudirman" saya hasil menyontek dan diajarin membacanya. Dan kini aku hendak menciptakan lagu? Dan tebak...lagu rohani pertamaku bernuansa jazz judulnya "S'lamatkanlah waktumu" diteriakin mirip lagu dangdut oleh temen persekutuanku ketika aku menyanyikannya di komsel. Wakzzz !!! But i don't stop, walau sempet putus asa. Hahahaha
Redup, namun menerangi.
Begitu kadang-kadang cinta kasih Tuhan. Ketika menuliskan perjalanan ini lagi, aku baru sadar kalau semua perjalanan hidupku bisa sampai ke titik ini hanya karena ada kasih-Nya yang menerangi dan memenuhi hatiku. Kalau tidak, aku mungkin sedang tersesat sangat jauh dan tidak bisa kembali lagi.
Seringkali aku tidak sadar Dia ada, namun Dia tetap ada.
Ya, Dia selalu ada.

You May Also Like

2 comment

  1. Tuhan akan memperlengkapi anakNya sesuai tujuannya tor. Aku senang banget memiliki kesempatan baca puisi diiringi dengan petikan gitarndu.

    Jujur, aku gak pernah PD baca puisi, PD-nya khotbah hehe. Dan diiringi gitarndu adalah pengalaman pertama aku baca puisi tanpa beban. Biasanya minta yang lain yang bacain :D

    ReplyDelete
  2. kapan lagi ya kak?
    tapi nanti puisinya ditulis dulu biar ga lupa-lupa, pasti lebih ok :)

    ReplyDelete