Jam Dinding Yang Tidak Berada Pada Tempatnya

by - June 29, 2005

Pagi ini aku agak terlambat bangun. Mungkin karena malamnya aku sekitar jam 00.00 baru nyampe rumah. Bangun pagi pintu kamar harus diketok sampai 4 kali oleh mom (hiks, ga ada yang miscal sih buat bangunin). Dengan langkah gontai tapi buru-buru, aku langsung bersiap. Aku terpaksa mandi di kamar mandi bawah, karena memang rumah sedang direnovasi sana-sini, termasuk juga kamar mandi lantai atas.
Begitu turun ke bawah otomatis mataku tertuju ke arah tengah ruang keluarga, tepat di atas teve. "Ah, kok ga ada?", pikirku. Aku sedang ingin melihat jam berapa saat itu, sehingga aku bisa set waktu untuk mandi (hahaha, segitunya). Tapi ternyata jam dinding yang biasa tergantung disitu, tidak berada pada tempatnya. Lalu aku sadar, ternyata dinding ruangan bawah memang sedang dicat, sehingga semua ornamen yang tertempel di dinding dicopot dulu. Walau masih penasaran dengan jam berapa saat ini, namun aku melanjutkan masuk ke kamar mandi.
Selesai mandi, aku bergegas menuju ke atas, menaiki tangga. Entah kenapa, mataku melirik lagi ke arah atas teve. Lagi-lagi aku harus menelan kenyataan bahwa memang jam dinding yang biasa berada disitu sedang diturunkan. Kecewa tapi ya sudahlah.
Mom dengan baik hati menyetrika baju yang akan kupakai di kantor. Aku cek hape, dompet, nomad, agenda. "All set!", kataku dalam hati. Aku siap berangkat. Dengan langkah agak cepat aku menuruni tangga lagi. Sampai di bawah, mom udah gorengin otak-otak yang kemaren mom bawa pulang dari makasar. Aromanya enak banget! Akhirnya aku nyicipin satu, pake sambelnya gitu...widih, yummie :) Melihat aku begitu menikmati otak-otak itu, dibungkusin deh buat sarapan aku di kereta. Ugghh, what a great mom :)
Sambil makan otak-otak, lagi-lagi secara otomatis kembali mataku tertuju ke arah di mana jam dinding itu biasanya tergantung. Gubrakkk, memang jam itu tidak berada disitu, aku menyadarkan diriku sendiri. Entah jam berapa saat itu, namun aku tahu sudah agak terlambat. Dengan cepat aku memakai sepatu dan menyambar tas, dan say "Pergi dulu ya mak!". Mom nganter sampe depan pintu dan aku bergegas berjalan.
Stasiun seperti biasa padat kalau pagi. Aku dengan cepat mengantri tiket, fiuh untuk masih dapet tempat duduk walau yang jam 6.39. Ditawarin voucher kompas gratis supaya bisa beli koran kompas dengan harga 1000 rupiah saja, kompas lagi ultah kata penjaja voucher itu.
Ah, aku tidak terlalu peduli dengan itu, karena hari ini aku membawa buku baru, judulnya "Elia, pahlawan heroik dan rendah hati". Buku itu pemberian mbak naning di hari terakhirku di innograph. Setelah selesai membaca sampai bab 40 buku Purpose Driven Life, aku berniat untuk menghabiskan buku ini pula. Semangat banget aku belajar tentang kerendahan hati...yeah !!!
---
Satu makna yang mendalam yang aku peroleh pagi ini.
Aku sedang mencoba bertahan menguji cintaku padamu, menguji cintamu kepadaku.
Hari ini cinta itu tidak kelihatan, mungkin sengaja engkau taruh dibawah karena dindingnya sedang di cat. Atau mungkin engkau sedang melihat sendiri cinta itu untuk mengujinya juga.
Hari ini aku paham bahwa cinta bukan sesuatu yang terlihat oleh mata, namun yang benar adalah cinta tetap ada walau tidak kelihatan.
Hari ini aku sadar dan mengerti, bahwa aku mencintaimu...

You May Also Like

1 comment

  1. AnonymousJune 29, 2005

    tulisanmu kali ini, penuh makna banget! well, is it true? cinta itu ada walau tdk kelihatan????

    ReplyDelete