Tutup matamu, dan berjalan...berapa lama kau bisa bertahan?

by - February 23, 2005

Hari itu aku balik kantor seperti biasa. Harus nunggu bus PPD atau mayasari yang udah bobrok dan peyot di sana-sini. Pasti penuh pula! Aku menyebrang pas lampu merah. Ah, harus menjemput bola ni, aku pikir...kalo engga pasti penuh duluan dan lama dapet bus-nya.
Aku berjalan terus ke arah yang berlawanan. Sampai juga di fountain, persis depan sebuah cafe. Di sini memang tempat favorit ku nunggu bus, karena bisa mendengar aliran sungai dan membuatku tidak bosan menunggu.


Di depanku persis, baru saja menyebrang seorang bapak-bapak. Dia memegang tongkat dan dengan tongkat itu dia meraba-raba jalan. Dalam hitungan detik otakku berputar, kalau aku tolong dia-pasti akan merepotkanku, padahal aku pengen pulang cepat. Tapi di sisi lain, aku tahu bahwa aku harus menolongnya.

Dengan modal nekad dan tidak peduli bahwa aku baru sembuh dari sakit, serta tidak mengindahkan penatnya kaki ini...aku hampiri bapak-bapak tadi. Ya, dia seorang buta. Aku tepuk pundaknya dengan pelan, sambil berkata "Mau kemana pak?". Dari mulutnya aku lihat senyum kecil bahagia dan matanya yang buta itu sedikit bersinar. Dia seperti lega sekali mengetahui ada orang yang akan menolong dia.

Dia bilang mau ke uki. Dari situ dia akan mencari jalan pulang ke arah ciliwung. Sampai disitu aku kembali sedikit menyesal dan berpikir, "Aduh, jurusannya sama lagi dengan gw...bakal bener-bener ngerepotin ni, gimana gw bawanya naek bus, kalo penuh juga gimana...". Tapi dorongan hati ini membuatku berdoa untuk bapak yang buta ini. Sejenak aku memejamkan mataku, hanya sekitar 10 detik. Aku lihat kegelapan, aku tidak bisa melihat apa-apa, hanya bisa kudengar suara-suara, suara air dan klakson bus dan mobil bercampur menjadi satu. Masih dengan mata tertutup aku coba langkahkan kakiku satu langkah saja. Uggh, aku tidak tahan. Segera aku ambil nafas dan membuka kembali mataku.

Kini aku melihat bapak buta ini dengan pandangan yang berbeda. Dari kejauhan aku melihat sebuah bus P 57. Ya, ini dia! Semoga tidak penuh, dalam hati aku berujar. "Ayo pak, ini ada bus 57 ke uki!", seruku semangat ke bapak buta ini. Si bapak pun segera mengikuti hentakan tanganku yang menuntun dia sambil membawa bungkusan hitam yang aku sendiri belum jelas itu apa. "Busnya kosong atau penuh dek?", si bapak tua ini sempat bertanya kepadaku sambil menjemput busnya. "Kosong kok pak tenang aja!", kataku semangat. Namun, kulihat sekilas raut wajahnya agak berubah.

Thanks God busnya memang agak kosong, sehingga aku bisa mendapatkan tempat duduk. Fiuh, akhirnya kaki ini bisa beristirahat. Baru saja aku ingin menawarkan tempat duduk ke bapak tua yang buta ini, dia mengelurkan sesuatu dari bungkusan itu. Dan membuatku paham dan mengurungkan naitku. Dia mengeluarkan ukulelenya, ternyata dia seorang pengamen.
Hari itu aku belajar satu hal yang berharga. Bahwa aku harus keluar dari kenyamananku untuk bisa menolong orang yang berbeda denganku. Bapak ini seumur hidupnya mungkin akan selalu mengharapkan bantuan orang lain untuk menuntun dia, dan mungkin seumur hidupnya pun dia akan selalu berharap bahwa bus yang ditumpanginya penuh...

You May Also Like

0 comment