Aku Mencintaimu

by - February 22, 2005

Sepanjang hidupku
Entah berapa kali aku bertemu dengan wanita
Ratusan! Ribuan! Puluhan ribu!

Pernah sekali aku bertemu
Dengan wanita yang pintar
Pendapatnya selalu benar

Dia mulai berbicara tentang kehebatan dirinya
Meneruskannya dengan bibirnya yang manis
Sampai akhirnya aku tersenyum dan kita tertawa bersama

Ya, dia memang hebat
Tapi bukan hanya dia
Masih banyak yang lain...

Kali ini, aku bertemu seorang wanita lagi
Hehehe, lagi-lagi seorang yang pintar
Pintar berdebat, pandai mengingat hal yang membuatnya seolah-olah hebat

Aku baru sekali bertemu dengan dirinya
Hm, karena pertemuan kedua dan ketiga tidak berasa
Mungkin karena dia terlalu pintar dan diriku biasa saja

Sampai kemudian karena kepintaran dia
Aku seperti badut dengan lipstik tertumpuk di bibir
Tidak dihiraukan berbicara, yang dia pikirkan hanya dirinya

Beberapa kali aku hendak berhenti berbicara
Menaruh lebih banyak lipstik di mulutku
Agar baik aku atau dia tidak mampu lagi membukanya

Tapi dia selalu pintar untuk membuka mulutnya
Dan menirukan suara yang bagus
Sehingga aku kembali memiliki keinginan untuk berbicara lagi

Namun, tunggu dulu wanita
Engkau sebenernya tidak sepintar itu, dan aku tidak sebodoh itu
Tunggu dulu wanita...

Sampai waktunya nanti aku akan berkata seperti si Anwar
"Tidak perlu sedu sedan itu"
Dan kau yang akan kubuang dalam sebuah perkumpulan yang terbuang

Mungkin aku egois dan angkuh
Tapi tak seberapa dengan dirimu yang melakukan lebih dari aku
Tunggu dulu wanita...

Saat ketika aku meninggalkanmu
Mungkin engkau baru sadar dan mungkin engkau baru akan tertarik dengan ku
Tapi waktu itu sudah terlambat

Tunggu dulu wanita...
Mengapa engkau tidak pernah mau menunggu aku mulai bercerita
Waktu aku menghabiskan waktuku bersamamu, waktumu bersamaku

Mengapa engkau selalu bertingkah pintar
Entah kapan engkau bisa berpura-pura bodoh, hingga akulah yang mengajarimu
Akuilah, aku yang lebih pintar darimu

Wanita...wanita
Engkau sebenarnya hanya bisa menunggu seseorang untuk mencintaimu
Tapi ketika aku datang, engkau terlalu sombong dan angkuh

Aku berhak untuk angkuh karena aku yang duluan mencinta
Tapi engkau walau cukup cantik untuk sombong, namun kau belum mencinta
Itulah mengapa aku hendak berkata...

Aku mencintaimu...

You May Also Like

0 comment