Kayu itu terlalu rapuh! (dalam suatu ketidakpastian)

by - December 22, 2004

Hebatnya diriku ingin membuat sebuah perahu
Tanpa basa basi ku temui satu persatu kayu itu
Aku teriak kepada mereka:
"Siapa yang ingin menjadi perahu?"Sia-sia teriakku

Akhirnya asa mencari asa
Malam kukelami tanpa waktuSiang tak terlihat lagi panasnya
Berhenti aku sejenak untuk merenung
Mungkin aku terlalu sombong dengan rancanganku
Mungkin perahuku terlalu bagus untuk dinaiki nantinya

Aku mulai gentar
Karena sudah cukup lama aku terdampar
Pulau yang tak bernama membenamkan aku
Dalam sebuah kesendirian yang tak kasat mata

Tak mungkin aku undur
"Mundur selangkah saja", ujar hatiku
Grrr...jangan buat aku marah
Namun hatiku membuatku merenung lagi, menerawang lagi

Ada baiknya juga aku lama ada di sini, pikirku
Aku bisa belajar untuk menghargai kayu
Bahwa mereka bukan hidup hanya untuk ditebang
Tapi untuk diajak bicara dan diperlakukan layak

Hari berikutnya aku mencoba untuk berbicara
Bahasanya sulit sekali, terbata-bata aku mengucapkannya
Namun aku tidak berhenti
Aku mulai fasih untuk bisa cukup dekat dengan kayu-kayu itu

Mereka mulai tertawa, tersenyum, kadang juga marah
Ah, cerita-ceritaku ternyata mereka dengarkan juga
Jarang aku didengarkan oleh orang lain
Tanpa harus aku teriak dan berkata kasar

Suatu hari, aku melihat satu kayu yang paling jelek dari semuanya
Cabangnya sedikit, warnanya sudah kusam, terlihat rapuh sekali...
Kudekati dia, dan kuajak bicara
Kucoba dengan lelucon yang biasanya membuat orang tertawa

Hey, dia mulai tersenyum...giginya terlihat putih sekali
Lesung pipinya mengisyaratkan keceriaan terpendam
Kupegang kayu itu, wah...ternyata kokoh sekali
Penglihatanku selama ini salah kalau begitu

Besoknya aku semakin jelas melihat dirinya memang berbeda
Dibanding dengan kayu yang lain, dia sungguh-sungguh istimewa
Entah mataku yang mulai berubah atau hatiku yang tertawan
Namun, sungguh kayu itu ingin kumiliki

Suatu saat aku akan berlayar mengarungi lautan dengan dirinya...

You May Also Like

0 comment